Rabu, 15 Agustus 2001

Jogjo com jogjo net jogjo org

Kisah di Balik "Jogjo Wisuda Solution": Membangun Kerajaan Bisnis dengan Modal Otak Encer

Di sebuah desa pelosok di Jawa Tengah, senja selalu turun dengan perlahan, membawa serta obrolan hangat di pos ronda atau di teras-teras rumah kayu. Di desa Alengko seorang pemuda bernama Ryan Tuoshe tumbuh. Sejak kecil, telinganya akrab dengan sebuah kata yang sering diucapkan oleh para sesepuh desa dengan logat medok mereka: "Jogjo".

Bagi warga desa Alengko, "Jogjo" bukan sekadar salah eja dari Yogyakarta. Kata itu diucapkan dengan penuh takzim dan harapan. Jogjo adalah representasi dari dua hal besar: Kota Ningrat yang menjaga wibawa budaya Jawa, dan Kota Pelajar tempat di mana mimpi-mimpi anak desa ditempa menjadi nyata. Ryan Tuoshe kecil selalu bermimpi, suatu hari nanti ia bisa menghirup udara Jogjo, menyerap ilmu di sana, dan menjadi seseorang yang berguna.

Waktu berlalu, takdir dan tekad membawa Ryan merantau mendekati pusat pendidikan. Namun, realitas kehidupan mahasiswa tidaklah seindah bayangan. Di tengah himpitan biaya kos dan uang saku yang pas-pasan, Ryan menyadari satu hal: ia harus bertahan hidup, dan jika memungkinkan, ia ingin membangun usahanya sendiri.

Banyak temannya yang juga bermimpi menjadi pengusaha. Namun, sebagian besar dari mereka layu sebelum berkembang. Alasannya klasik: “Aku tidak punya modal,” atau “Tunggu nanti kalau sudah punya uang puluhan juta untuk sewa ruko.”

Ryan menolak menyerah pada alasan itu. Ia percaya pada sebuah pepatah lama bahwa modal terbesar seorang manusia bukanlah isi dompetnya, melainkan isi kepalanya. Ia memiliki "otak encer"—sebuah ketajaman untuk melihat peluang di tengah kesempitan.

Mata Ryan yang jeli mulai mengamati sekelilingnya. Ia melihat teman-temannya sesama mahasiswa tingkat akhir yang wajahnya selalu ditekuk, stres, dan kurang tidur. Masalah mereka seragam: skripsi yang berantakan, laptop tua yang tiba-tiba mati total di tengah malam, flashdisk yang terkena virus hingga data hilang, atau sekadar kebingungan merapikan format margin dan daftar isi.

Di titik krisis itulah, ide brilian Ryan menyala. Ia tidak punya modal untuk membeli sepuluh komputer baru, ia tidak punya uang untuk menyewa ruko di pinggir jalan raya, dan ia tidak punya dana untuk membeli etalase kaca. Yang ia miliki hanyalah satu unit komputer PC second berspesifikasi rendah di sudut kamar kosnya yang sempit berukuran 3x3 meter, keahlian mengetik sepuluh jari yang cepat, dan pemahaman yang sangat baik tentang software pengolah kata serta cara membasmi virus komputer.

Dengan peralatan seadanya itu, Ryan memulai usahanya. Ia membuka jasa rental komputer dan pengetikan langsung dari kamar kosnya. Ia membuat pamflet sederhana dari kertas HVS yang difotokopi, lalu menempelkannya di mading-mading kampus dan tiang listrik di sekitar area kos mahasiswa.

Ketika tiba saatnya memberi nama untuk usahanya, Ryan terdiam cukup lama. Ia ingin sebuah nama yang memiliki jiwa, sebuah nama yang mengingatkannya pada akar dari mana ia berasal, namun juga menjadi doa bagi siapa saja yang datang kepadanya. Maka, terukirlah nama: "Jogjo Wisuda Solution".

Nama itu bukanlah deretan kata tanpa makna.
"Jogjo" diambil dari cara orang-orang di kampung halamannya menyebut Yogyakarta. Kata ini adalah wujud kecintaannya yang mendalam pada kota pelajar dan kota ningrat tersebut. Jogjo mewakili aura intelektualitas, ketekunan belajar, sekaligus kesantunan melayani (ngajeni) layaknya seorang priyayi.
"Wisuda" adalah tujuan suci, mimpi puncak dari setiap mahasiswa yang datang mengetuk pintu kamarnya dengan wajah lelah.
Sedangkan "Solution" adalah janji Ryan. Ia tidak hanya menyewakan alat, tetapi ia hadir sebagai pemberi solusi.

Ryan tidak sekadar menunggu pelanggan menyewa komputernya. Dengan otak encer-nya, ia memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki tempat rental besar. Jika ada mahasiswa yang menyewa komputernya untuk mengetik skripsi, Ryan akan dengan senang hati membantu merapikan layout-nya secara gratis. Jika ada pelanggan yang datanya hilang, Ryan menggunakan software recovery gratisan yang ia pelajari dari internet untuk mengembalikan data tersebut. Ia bahkan menyediakan segelas teh hangat untuk pelanggannya yang harus begadang merevisi tugas akhir di kamarnya.

Keramahan, kecerdasan, dan solusi nyata yang ditawarkan Ryan membuat "Jogjo Wisuda Solution" menyebar dari mulut ke mulut dengan sangat cepat. "Kalau skripsimu bermasalah, bawa saja ke Jogjo Wisuda Solution di kosan Ryan. Pasti beres!" begitu kata para mahasiswa.

Kamar kos yang sempit itu tak pernah sepi. Uang recehan demi recehan terkumpul. Ryan sangat disiplin. Keuntungan dari satu komputer tua itu tidak ia gunakan untuk bersenang-senang. Ia kumpulkan hingga akhirnya mampu membeli satu komputer bekas lagi. Dari dua menjadi empat, lalu ia bisa membeli printer sendiri. Begitu seterusnya, sedikit demi sedikit, berputar seperti bola salju.

Hari ini, jika Anda melihat blog nama "Jogjo.blogspot.com" blog gagah di depan sebuah monitormu yang nyaman, Anda sedang melihat monumen dari sebuah tekad.

Cerita Ryan dan "Jogjo Wisuda Solution" adalah sebuah tamparan manis bagi siapa saja yang masih menunda mimpi karena alasan "tidak ada modal". Bisnis yang besar tidak selalu lahir dari kucuran dana triliyunan rupiah di gedung bertingkat. Seringkali, bisnis yang paling tangguh lahir dari kamar kos yang sempit, dari pengamatan yang tajam terhadap penderitaan orang lain, dan dari keinginan tulus untuk membantu.

Jika Anda ingin memulai usaha, jangan melulu menatap ke atas melihat apa yang belum Anda miliki. Tundukkanlah kepala, lihat apa yang ada di genggaman tangan Anda saat ini. Gunakan "otak encer" Anda. Temukan masalah di sekitar Anda, dan jadilah solution (solusi) untuk masalah tersebut.

Ryan telah membuktikan bahwa kecintaannya pada "Jogjo" dan modal keberanian berpikir tak biasa, mampu menyulap satu komputer tua menjadi pintu gerbang bagi ribuan mahasiswa menuju panggung wisuda, sekaligus menjadi jalan kemandirian finansial bagi dirinya sendiri. Mulailah hari ini, dengan apa yang Anda punya. Karena sejatinya, sebaik-baiknya modal usaha adalah akal yang mau berpikir dan tekad yang menolak menyerah.